Assalamualaikum Wr.Wb.

"Blog ini berisi tentang hal-hal menarik tentang kebudayaan daerah Lampung serta informasi lainnya yang tak kalah menariknya...di baca yuk...semoga bermanfaat...! Jika kalian ingin menambahkan atau mengomentari sesuatu tentang blog ini silahkan ketik di komen ya..."
Powered By Blogger

Rabu, 23 November 2011

Kata Ganti Orang


Berikut ini adalah kata ganti dan kepemilikan dalam bahasa Lampung.
 Dialek O
SubyekKepunyaanArti
Nyak/sikamNyak/sikamSaya/kami
Meu/puskamMeu/puskamKamu/anda
GhamGhamKita
Ikam/sikamIkam/sikamKami
TiyanTiyanMereka
MetteiMetteiKalian
YoNoDia/nya

Dialek A

SubyekKepunyaanArti
Nyak/sikamNyak/sikamSaya/kami
Niku/puskamMu/puskamKamu/anda
KhamKhamKita
Ikam/sikamIkam/sikamKami
TiyanTiyanMereka
Kuti/ketiKuti/ketiKalian
YaNiDia/nya
 

Senin, 21 November 2011

Kedudukan, Fungsi, Dialek, dan Subdialek

Oleh: A. Effendi Sanusi

Bahasa Lampung adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Nusantara. Bahasa itu terdapat di Provinsi Lampung, merupakan bahasa yang masih hidup dan dipelihara oleh masyarakat penuturnya. Bahasa Lampung tidak mengenal tingkatan seperti yang terdapat dalam bahasa Jawa (tingkat ngoko, kromo, dst.). Namun, seperti halnya bahasa yang lain, bahasa Lampung memiliki ragam, seperti ragam resmi dan ragam tidak resmi. Dalam bahasa Lampung, hubungan antarpembicara terungkap dalam sistem tutur sapa, seperti nyak ’saya’, ikam ’saya’, nikeu/niku ‘kamu’, Puskam ‘Anda’, metei/kuti ‘kalian’, dan metei ghuppek/kuti ghumpok ‘Anda semua’.

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Lampung berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah Lampung, (2) lambang identitas daerah Lampung, (3) alat komunikasi di dalam keluarga dan masyarakat Lampung, (4) sarana pendukung budaya Lampung dan budaya Indonesia, serta (5) pendukung sastra Lampung dan sastra Indonesia. Di dalam hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa Lampung berfungsi sebagai (1) pendukung bahasa Indonesia dan (2) salah satu sumber kebahasaan untuk memperkaya bahasa Indonesia.

Bahasa Lampung terdiri atas dua dialek, yakni dialek O dan dialek A (Van der Tuuk membedakan atas dialek Abung dan dialek Pubian; Dr. J.W. Van Royen membedakan atas dialek Api dan dialek Nyou). Bahasa Lampung dialek O meliputi Abung dan Menggala. Bahasa Lampung dialek A meliputi Waikanan, Sungkai, Melinting, Pubian, Pesisir, dan Pemanggilan Jelema Daya. Dalam pembelajaran bahasa Lampung di sekolah, dialek O dan dialek A diajarkan secara berdampingan. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya masyarakat pendatang mempelajari bahasa Lampung.

Bahasa Lampung Abung digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di (1) sebagian Kota Bandar Lampung, (2) sebagian Kabupaten Lampung Selatan, (3) sebagian Kabupaten Lampung Tengah, (4) sebagian Kabupaten Lampung Utara, (5) sebagian Kabupaten Lampung Timur, dan (6) sebagian Kota Metro.

Bahasa Lampung Menggala (sering juga disebut bahasa Lampung Tulangbawang) digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulangbawang, sebagian Kabupaten Tulangbawang Barat, dan sebagian Kabupaten Mesuji. Bahasa Lampung Waikanan digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Waikanan. Bahasa Lampung Pesisir digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di (1) Kota Bandar Lampung bagian selatan, (2) sebagian Kabupaten Lampung Selatan, (3) Kabupaten Lampung Barat, (4) sebagian Kabupaten Tanggamus, (5) sebagian Kabupaten Pesawaran, dan (6) sebagian Kabupaten Pringsewu. Selain itu, bahasa Lampung Pesisir juga digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di sekitar Danau Ranau (Provinsi Sumatra Selatan) serta di Cikoneng, Bojong, Salatuhur, dan Tegal (Banten).

Bahasa Lampung Melinting digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di sebagian Kabupaten Lampung Timur. Bahasa Lampung Pubian digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di (1) sebagian Kota Bandar Lampung, (2) sebagian Kabupaten Lampung Selatan, (3) sebagian Kabupaten Lampung Tengah, (4) sebagian Kabupaten Tanggamus, (5) sebagian Kabupaten Pesawaran, dan (6) sebagian Kabupaten Pringsewu. Bahasa Lampung Sungkai digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Utara, meliputi Kecamatan Sungkai Selatan (Ketapang) dan Sungkai Utara (Negararatu) beserta pemekaran kedua kecamatan tersebut. Bahasa Lampung Pemanggilan Jelema Daya digunakan oleh etnik Lampung yang berada di Muaradua, Martapura, Komring Ilir, dan Kayuagung (Provinsi Sumatra Selatan).

Rabu, 16 Maret 2011

Video Berbahasa Lampung

Puisi

Ghadin Intan

Sangun kuliyak dilom sejaghah
Diwaktu jaman penjajah
Ghadin Intan ghagah sai gagah
Sampai mati ya mak nyeghah


Di waktu jaman segheji
Lamon jelema sai baghih
Mak mandang hina puwaghi
Pentingni bangik dighi


Ghadin ngaghapat sai tesingkegh
gegoh jelema kena sighih
Unyin peghintah jak menigh
Dilapahi mak bupikegh


Sai paling dighabayi
Musuh mak tipandayi
Ulihni kughang hati-hati
Ghadin Intan ahighni mati


ghennolah ghiwayat
Sampai di ahigh hayat
Ziaghah lapah nyansat
Ganta Ghadin ngeghamat 

Senin, 14 Maret 2011

Resep Donat Kentang




Donat Kentang adalah salah satu jajanan favorit saya. Enak…teksturnya lembut. Buatnya juga gampang kok. Nih resepnya…




Bahan - Bahan 
  • tepung terigu protein tinggi 400 gram
  • tepung kentang 100 gram
  • ragi instan 7 gram
  • bread improver 5 gram
  • gula pasir 80 gram
  • garam 8 gram
  • kuning telur 2 butir
  • susu cair 275 ml
  • mentega 35 gram
Cara Membuat
  1. Campur semua bahan kering, aduk rata.
  2. Masukkan kuning telur, tuangi susu cair. Uleni hingga rata. Tambahkan mentega, uleni hingga kalis.
  3. Diamkan selama kurang lebih 30 menit (mengembang 2 kali lipatnya), buang gas dalan adonan.
  4. Pipihkan adonan hingga setebal 1 cm.
  5. Cetak adonan sesuai selera. Kembangkan kembali selama kurang lebih 20 menit.
  6. Panaskan minyak, goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat.
  7. Donat siap dihias dan disajikan.
Untuk 15 buah
Selamat mencoba

Minggu, 13 Maret 2011

Sakiman atau Teteduhan


"Untuk Anak-anakku Kelas IV SD Al Azhar 2...ibu punya teka-teki dalam bahasa Lampung...Kalian baca yach...klo ada tambahan atau kalian punya teka-teki yang lain dalam bahasa Lampung kalian tambahkan di komentar yach sayang..."

Sakiman atau teteduhan artinya teka-teki dalam bahasa Lampung. Teka teki itu berupa pertanyaan yang isinya atau jawabannya yang hanya diketahui oleh si penanya saja dan diketahui oleh pihak lain yang telah diberitahukannya jawabannya.
                                                                                                                                           
Teka-teki sering digunakan oleh anak-anak untuk mengisi waktu senggang dalam bermain atau bergaul dengan kawan-kawan. Teka teki ini sering dipergunakan oleh bujang gadis untuk melengkapi acara muda mudi.

Berikut ini beberapa contoh teka-teki bahasa Lampung.
1.  Mengan sekalei betteng betahun-tahun. (O)
Mengan sekali betong butahun-tahun. (A)
Makan sekali kenyang bertahun-tahun.
Jawabannya : Lunan = bantal



2.   Jinno no agheng, munnei-munnei jadei andak. (O)
Jenno ni halom, muni-muni jadi handak. (A)
Mula-mula hitam, lama-lama jadi putih
Jawabannya : buwek/buwok = rambut


3.   Bulung di deh, wakak di unggak nyo ino.(O)
Bulung di bah, bakak di lambung api hina. (A)
Daun di bawah akar di atas.
Jawabannya : kelambeu gattung = kelambu gantung


4.   Mengan anjak ghango, mising anjak betteng. (O)
Mengan jak banguk, mising jak gelegh betong. (A)
Makan dari mulut, berak dari perut.
Jawabannya : gilingan paghei = gilingan padi


5.   Mengan anjak mato, mising ghang mato. (O)
Mengan jak mata, mising jak mata. (A)
Makan dari mata, berak dari mata.
Jawabannya : pen cair = pulpen cair

6.   Balak uleu jak takkai, liko dipekkem bubbai. (O)
Balak hulu jak tangkai, ghisok dibekom bebai. (A)
Besar kepala dari pada tangkai, sering dipegang ibu-ibu
Jawabannya : agheu = irus

7.   Nuwono balak anying kughuk badanno miring giccing. (O)
Lambanni balak kidang luwah kughuk badanni mighing. (A)
Rumahnya besar tetapi keluar masuk badannya miiring.
Jawabannya : kaccing kawai = kancing baju
 
8.   Lamun digunaken yo duimbanken, lamun mak digunoken yo di akuk. (O)
Kik tigunakon ya tiumbanko, kik mak tigunakon ya tiakuk. (A)
Kalau hendak digunakan ia dibuang, tidak digunakan ia diambil.
Jawabannya : jakkar = sawoh


Sabtu, 26 Februari 2011

Kosakata Bahasa Daerah Lampung

Ada 2 dialek dalam bahasa daerah Lampung yaitu dialek A dan dialek O. Kosakata dalam dialek masing-masing juga terdapat beberapa kata-kata yang mempunyai arti sama tetapi berbeda kata-katanya. Berikut merupakan kumpulan kata-kata yang memiliki arti sama tapi kosakatanya berbeda.

No
Dielak A
Dialek O
Arti
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20 
Lamban
Ipon
Haga
Mit
Ganta
Ughau
Kan
Bubinting
Punti
Sesut
Jaman tumbai
Bebuwak
Ghatong
Ngeliyak
Ngebasuh
Pedom
Bantal
Kukut
Pelok
Iwa
Nuwo
Kedis
Ago
Adek
Tano
Cuwak  
Mei
bubbet
Puttei
Sesui
Jaman ghebbei
Juwadah
Meggegh
Ngenah
Nginyau
Peddem
Lunan
Caluk
Tettek
Punyeu
Rumah
Gigi
Mau, ingin
Ke
Sekarang
Panggil
Nasi
Ikat pinggang, sabuk
Pisang
Sendok
Jaman dahulu
Kue
Datang
Melihat
Membasuh, mencuci
Tidur
Bantal
Kaki
Potong
Ikan

Bagi kalian yang masih punya banyak kosakata bahasa daerah Lampung yang memiliki arti sama tetapi pengucapannya berbeda…boleh kalian tulis di komentar di bawah ininya ya…di tunggu...^_^

Sabtu, 19 Februari 2011

Memahami Isi Wacana Prosa Deskripsi tentang Legenda Asal mula Harimau, Macan Tutul, dan Kucing

Asal Mula Harimau, Macan Tutul, dan Kucing

Dialek O
Jaman ho ughik tigo waghei binatang. Si pertamo tagei temmen, rasanno mengan gaweh. Lamun mak ino yo peddem, mulo badanno balak, ulah badanno balak yo mak pandai nakkat. Mulo yo mak iling dibuwah-buwahan. Yo iling di daging begaweh lamun yo betteh minjak jak peddem nyo gelagh binatang sipaghek yo ditekkep dan dikanno. yo digelaghei ulun lemaweng.

Si keduwo mak pigho tagei mulo badanno mak pigho balak, yo pandai nakat anying mk pigho ghaccak, dan bener yo iling di daging iling munih dibuah-buahan, yo digelaghei ulun lemaweng kettul.

Si ketigo mak tagei, dawah debingei makket menneng, mulo badanno mak balak dan mak gemuk, yo iling paghek jama jimo, mulo yo ilinh mengan mei, punyeu atau daging munih. Ya di gelaghei ulun kucing.

Dialek A
Jaman tumbai hughik tellu binatang. Sai peghtama malas nihan sani'anni mengan gawoh, kik mak ghena ya pedom, badanni mubalak ulih badanni mubalak ya mak pandai nyakai, ulih mak pandai nyakai, ya mak geghing jama buah-buahan, ya geghing di daging gawoh kik ya betoh, minjak ya jak pedom, api gawoh binatang sai ghedik ya ditekopni ghik dikanik ni, ya digelaghi hulun halimawong.

Sai keghuwa mak sepigha singkal jadi badanni mak balak ga, ya pandai nyakai kidang mak sepigha ghanggal, jadi ya geghing di daging, geghing munih dibuah-buahan, ya digelaghi hulun macan tutul.

Sai ketelu mak malas, bingi deghani mak ngeghanok jadi badanni mak balak ghik mak gemuk, ya geghing mughedik jelema ya geghing mengan kan, nganik iwa ghik daging juga, ya digelaghi hulun kucing.

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Bacalah wacana di atas kemudian artikan ke dalam bahasa Indonesia!
2. Bagaimanakah sifat binatang pertama?
3. Bagaimanakah sifat binatang ketiga?
4. Apa keistimewaaan binatang kedua dari binatang pertama dan ketiga?
5. Sebutkan tiga binatang dalam bahasa Lampung yang diceritakan dalam cerita di
    atas?

Kamis, 17 Februari 2011

Life is...

  • sebuah tantangan maka hadapilah
  • sebuah anugerah maka terimalah
  • sebuah pertualangan maka berjuanglah
  • sebuah dukacita maka tanggulangilah
  • sebuah tragedi maka tuntaskanlah
  • sebuah tugas maka laksanakanlah
  • sebuah permainan maka mainkanlah
  •  sebuah misteri maka singkaplah
  • sebuah lagu maka nyanyikanlah
  • sebuah kesempatan maka ambillah
  • sebuah janji maka penuhilah
  • sebuah perjalanan maka jalanilah
  • sebuah kasih sayang maka bergembiralah
  • sebuah keindahan maka bersyukurlah
  • sebuah jiwa maka sadarilah
  • sebuah teka teki maka singkaplah
  • sebuah cita-cita maka capailah

Untuk anak-anakku di Al Azhar 2...berjuanglah, Nak...! Tuntaskan keinginan dan cita-citamu sampai setinggi langit...Jangan pernah menyerah dengan keadaan...Teruslah berusaha...Ibu yakin kalian anak-anak pintar n berprestasi...Gali terus bakat dan cita-citamu...agar kelak kalian menjadi seorang anak yang sukses dan kebanggaan untuk orang tua kalian, bangsa dan agama. Amin...

Selasa, 15 Februari 2011

Asal Mula Keratuan Ratu Melinting dan Keratuan Darah Putih

Ratu Dipugung atau Ratu Galuh mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak pertama bernama Siginder Alam Dang dan yang kedua bernama Gayung Gerunggung. Siginder Alam mempunyai seorang anak gadis yang bernama Puteri Sinar Kaca, sedangkan Gayung Gerunggung juga mempunyai seorang anak gadis yang bernama Puteri Sinar Alam.

Kala itu datanglah Sultan Banten ke Lampung. Ia melihar cahaya terang yang memancar dari bumi ke langit. Sultan mendapat firasat bahwa di Pugung ada seorang puteri yang dapat mengakibatkan hal baik jika menikah dengannya. Ratu Dipugung menunjukkan cucunya yaitu puteri Siginder Alam yang tak lain adalah Puteri Sinar Kaca. Dan kemudian Sultan pun menikahi Puteri Sinar Kaca.

Beberapa lama setelah Sultan menikahi Puteri Sinar Kaca, Sultan memutuskan untuk kembali sementara ke Banten tanpa Puteri Sinar Kaca. Belum lama Sultan berada di Banten, ia melihat kembali cahaya terang yang memancar dari bumi ke langit seperti yang ia lihat sebelum menikahi Puteri Sinar Kaca. Sang Sultan berkata dalam hatinya,"Jika demikian, tentu puteri itu masih ada di Pugung (Lampung). Puteri yang kunikahi ternyata bukanlah yang terlihat sinarnya itu. "Oleh sebab itu, Sultan memutuskan untuk kembali ke Lampung, tujuannya bukan untuk menemui istrinya "Puteri Sinar Kaca" tetapi akan mencari dan menikahi sesegera mungkin puteri yang terlihat sinarnya tadi.

Setelah tiba di Pugung, ia terus berkata kepada kakeknya yaitu Ratu dipugung, bahwasanya yang dinikahinya itu bukanlah putri yang dilihat di dalam sinar yang dilihatnya. Ratu Dipugung lalu menunjukkan cucunya yang lain, puteri Gayung Gerunggung yang bernama Puteri Sinar Alam. Akhirnya Sultan pun menikahinya. Beberapa lama setelah Sultan menikahi Putri Sinar Alam, Sultan memutuskan untuk kembali lagi sementara ke Banten tanpa Putri Sinar Alam.

Beberapa lama setelah sag Sultan berada di Banten, Puteri Sinar Kaca melahirkan seorang putera yang dibei nama Kejalo Bidin. Dan kemudian Putri Sinar Alam pun melahirkan seorang putera yang diberi nama Kejali Ratu. Kejalo Bidin dan Kejali Ratu tumbuh dan besar di Pugung Lampung. Saat mereka bermain di halaman rumah mereka, mereka melihat tiga ekor burung perkutut yang hinggap di pelepah pohon kelapa, mereka memandang ketiga ekor burung perkutut tersebut dan berlari kepada ibu mereka dan bertanya.

"Mengapa burung perkutut itu ada tiga ekor, biasanya hanya ada sepasang burung perkutut?"Tanya Kejalo Bidin (anak Putri Sinar Kaca). Puteri Sinar Kaca pun menjawab,"Yang di sebelah kiri adalah induknya, di tengah adalah anaknya, dan di sebelah kanannya adalah anaknya." Kejalo Bidin pun melontarkan kata-kata "Berarti kami pun mempunyai seorang ayah pula, siapa ayah kami ibu?

Purri Sinar Kaca pun tidak berkenan untuk menjelaskan kepada keduanya. Dengan bersikeras mereka berdua selalu memaksa Putri Sinar Kaca untuk mejelaskan kepada mereka. Dan akhirnya Putri Sinar Kaca menjelaskan kepada mereka berdua bahwa ayah mereka adalah sama yaitu Sultan Banten.

Setelah mereka berdua tumbuh dewasa, mereka berdua pun memutuskan pergi ke Banten untuk menemui ayah mereka yaitu Sultan Banten. Sultan Banten pun tidak langsung percaya pada pernyataan mereka berdua dan sang Sultan memutuskan untuk menoreh pedangnya di dahi kedua bersaudara tersebut, jika darah putih yang keluar dari dahi mereka maka benar mereka berdua adalah putranya.

Sang Sultan pun mencabut pedangnya dan menorehkannya ke dahi kedua bersaudara itu. Ternyata darah putih bercampur kemerahan keluar dari dahi Kejalo Bidin, sedangkan darah putih keluar dari dahi Kejalo Ratu. Sang Sultan pun langsung percaya dan yakin bahwa mereka berdua adalah putra kandungnya.

Sultan pun memberikan gelar kepada kedua putra kandungnya. Kejalo Bidin diberi gelar ”MINAK KEJALO BIDIN”, sedangkan Kejalo Ratu diberi gelar ”MINAK KEJALO RATU DARAHPUTIH”.

Mereka berdualah yang menjadi cikal bakal kebuaian Melinting dan kebuaian Ratu Darahputih. Minak Kejalo Bidin di Melinting dan Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda.

Setelah bertahun-tahun sejak peristiwa itu, Ratu Dipugung meminta dua orang ini mendirikan keratuan baru di dalam keratuan Ratu Dipugung. Minak Kejalo Bidin diminta mendirikan keratuan di Melinting (Labuhanmaringgai) dan Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda. Keturunan Ratu Darahputih di Kalianda diantaranya adalah Raden Intan yang menjadi pahlawan nasional asal Lampung (perkiraannya Raden Intan keturunan yang ketujuh dari Minak Kejalo Ratu Darahputih).


Setelah kalian baca cerita di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Apakah Judul cerita di atas?
2. Siapakah nama kedua cucu Ratu dipugung?
3. Siapakah nama putera dari Putri Sinar Kaca dan Putri Sinar Alam?
4. Mengapa Sultan Banten bersikeras untuk menikahi kedua cucu dari Ratu Dipugung?
5. Ceritakan secara singkat bagaimana asal mula keratuan Melinting(Labuhanmeringgai) dan Keratuan Darahputih di Kalianda dengan bahasamu sendiri?